Menengok Ragam Wisata Sulawesi di Tana Toraja

3,860 x dibaca

Siapa yang tidak kenal Tana Toraja? Iya, daerah ini merupakan salah satu obyek wisata Sulawesi Selatan yang sangat menarik dan sayang dilewatkan jika anda berkunjung ke Pulau Sulawesi. Obyek wisata Tana Toraja merupakan perpaduan antara wisata budaya, alam dan sejarah.

Sebagai salah satu daya tarik wisata Indonesia, Tana Toraja yang dikenal dengan kekayaan budayanya, tak mengherankan jika obyek wisata Sulawesi ini terkenal hingga penjuru dunia.

Karena kekayaan budayanya tersebut, maka pada tahun 2004 silam UNESCO memasukkan Tana Toraja dalam daftar sementara warisan budaya dunia.

Bagi anda yang belum pernah berkunjung ke sana, mungkin saja bertanya seperti apa obyek wisata dan bagaimana kehidupan serta kebudayaan masyarakat Tana Toraja yang terkenal itu?

Dalam kehidupan masyarakat Tana Toraja, ada yang dikenal dengan upacara kematian dan juga upacara kehidupan. Upacara kematian berlangsung hingga beberapa hari yang melibatkan seluruh penduduk desa. Upacara kematian itu digelar jika usai musim panen, biasanya pada bulan Juli hingga September. Sementara upacara kehidupan digelar pada saat musim tanam tiba. Yakni pada bulan Oktober dalam setiap tahunnya.

Berbagai Kegiatan Wisata

Untuk anda yang ingin berkunjung ke sana, berikut beberapa tempat wisata di Tana Toraja yang bisa anda kunjungi:

Londa

Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam di mana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga. Ditempat ini, anda dapat melihat pemakaman yang telah terkenal ke dunia internasional, sebuah pemakaman di dinding berbatu dan gua-gua yang dipenuhi peti mati dan tulang-belulang manusia. Anda tidak perlu takut untuk masuk ke dalam gua. Tapi dengan syarat, jangan sekali-sekali ada keinginan untuk mengambil dan memindahkan tulang belulang tersebut.

Wisata Lainnya:   Keindahan Pantai Lombang-Lombang, Sulawesi Barat

Rambu Solo

Rambu Solo adalah upacara kematian dimana keluarga yang ditinggalkan membuat pesta sebagai tanda penghormatan kepada orang yang meninggal dunia, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan. Pesta ini mulai berlangsung satu malam bahkan hingga tujuh malam dengan menyembelih berpuluh-puluh ekor kerbau dan babi bergantung strata sosial dalam masyarakat Tana Toraja. Untuk menyaksikan upacara sekaligus penyembelihan puluhan hewan itu secara kolosal oleh para penjagal di tempat ini, anda harus datang pada bulan Juni, Juli atau Desember. Anda akan melihat bagaimana keunikan dan sakralnya adat-istiadat masyarakat Tana Toraja.

Ke’te Kesu

Ke’te Kesu adalah sebuah nama Desa di Tana Toraja. Untuk melihat tempat tinggal orang Toraja, kunjungilah Desa Ke’te Kesu’. Anda akan menemukan deretan Tongkonan dihiasi dengan indahnya dan lumbung padi serta bangunan megalitik di sekitarnya. Tongkonan adalah rumah khas Tana Toraja dengan atap mirip pelana atau mengingatkan kita pada tanduk kerbau. Atapnya terbuat dari bambu yang dibelah dan disusun bertumpuk. Selain itu, perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir bambu yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang direkomendasikan untuk berbelanja souvenir bagi para wisatawan yang berkunjung.

Lemo

Lemo adalah sebuah kompleks pemakaman bagi bangsawan yang dibuat di bukit batu. Tempat ini juga disebut sebagai rumah para arwah. Bukit ini dinamakan Lemo karena bentuknya bulat menyerupai buah jeruk (limau). Di pemakaman Lemo ini, anda akan melihat mayat yang tersimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni, dan ritual.

Wisata Lainnya:   Melepas Penat Di Pulau Kayangan Makassar, Oh Indahnya…

Pallawa

Pallawa adalah salah satu Tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohon bambu di puncak bukit. Selain itu, tempat ini juga merupakan pusat tenun Tana Toraja dan kawasan penguburan sekaligus tempat untuk melakukan upacara dan festival.

Batu Tumonga

Di tempat ini anda akan menemukan 56 batu menhir dalam sebuah lingkaran dengan lima pohon di bagian tengahnya. Kebanyakan batu menhir memiliki ketinggian sekitar dua sampai tiga meter.

Selain itu, di tempat ini anda akan menemukan panorama hamparan persawahan yang indah hijau berkilauan tersebar bersama batu-batu megalitik besar. Daerah ini juga dikenal memiliki tenun ikat tradisional khas Tana Toraja.

Kuburan Bayi Kambira

Di kuburan ini, bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh dikuburkan di dalam sebuah lubang yang dibuat di pohon yang tinggi. Hal itu dilakukan karena bayi ini dianggap masih suci. Dengan menguburkan di pohon ini, orang-orang Toraja menganggap bayi tersebut seperti dikembalikan ke rahim ibunya dan mereka berharap pengembalian bayi ini ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang akan lahir kemudian.

Pemakaman seperti ini dilakukan oleh orang Toraja pengikut ajaran kepercayaan kepada leluhur. Upacara penguburan ini dilaksanakan secara sederhana dan bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan kain, sehingga bayi seperti masih berada di rahim ibunya.

Wisata Lainnya:   Wow, Keindahan Wisata Pantai Tanjung Bira, Tak Diragukan Lagi

Lokomata

Lokomata berlokasi sekitar 35 kilometer dari Rantepao, terdapat pemandangan yang sangat menarik dari 4 tingkat batu besar di tepi jalan yang mempunyai sekitar 60 kuburan tebing batu dengan diperkaya oleh pemandangan teras sawah, pegunungan dan lembah di bagian bawahnya

Buntu Kalando

Di daerah ini ada sebuah rumah tongkonan yang didirikan oleh raja Sangalla. Di sini terdapat museum di dalamnya walaupun modelnya agak baru, tapi museum bentuk rumah ini memiliki beberapa benda kerajaan yang menarik dan beberapa alat rumah tangga yang dahulunya dimiliki oleh puang Sangalla.

Akses

Untuk berkunjung ke obyek wisata Sulawesi ini, ada dua pilihan transportasi yang dapat membawa anda dari Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Yaitu bisa menggunakan pesawat perintis yang berkapasitas 24 orang atau menggunakan mobil melalui jalan darat. Jika menggunakan pesawat dari Bandara Hasanuddin Makassar, anda akan sampai di Bandara Pong Tiku, Rantetayo, Tana Toraja, dalam waktu tempuh sekira 45 menit. Sedangkan jika menempuh perjalanan darat, sekira delapan jam baru anda tiba di Tana Toraja.

Catatan: Pesawat ke Tana Toraja hanya terbang dua kali dalam seminggu, yaitu pada hari Selasa dan Jumat.

Bagaimana apakah sudah siap berkunjung ke Tana Toraja? Yang pasti berkunjung ke sana, maka bersiaplah terpesona dengan keindahan alamnya yang menakjubkan. Di saat yang sama ada daya tarik dari masyarakatnya yang telah mempertahankan kepercayaan dan tradisi mereka dalam siklus kehidupan yang kekal dan kematian di Bumi. (Dari berbagai sumber)

(source images: http://www.sulsel.go.id & http://radaronline.co.id)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *