Kampung di Atas Awan Batutumonga Tana Toraja

Populer diwujudkan daerah liburan, Tana Toraja miliki destinasi liburan alam yang pemandangan menakjubkan. Selagi berkunjung kesana, jangan lewatkan untuk menyaksikan jangka alam Batutumonga yang berlokasi di lereng Gunung Sesean. Dinobatkan sebagai daerah yang ideal untuk merasakan estetika Tana Toraja, pengunjung serasa berada di atas awan wisatasulawesi.com.

Mengetahui Lokasi Liburan Batutumonga

Yaitu kota kecil yang ada di kecamatan Sesean Suloara, kota ini menawarkan pemandangan menawan yang tak dapat ditolak. Cuma berjarak sekitar 328 kilometer apabila dari kota Makassar, Gunung Sesean dikatakan sebagai gunung tertinggi yang ada di Toraja. Dikala menginjakkan kaki di Batutumonga, Anda dapat memandang dengan terang segala kawasan Toraja Utara. Dengan ketinggian hal yang demikian, seakan menapaki kaki di atas awan.

Baca Juga : Wisata Mata Air Tilanga di Toraja

Sebelum hingga pada daerah tujuan, pengunjung akan melewati jalan berliku pada ketinggian tertentu. Meskipun medannya termasuk ekstrim, pesona alam eksotik yang semacam itu memanjakan mata. Pun selama perjalanan, pengunjung dapat merasakan panorama dari ketinggian yang menonjolkan kota Rantepao beserta Jurang Sa’dan. Udaranya terasa dingin nan segar, membikin siapa saja betah berlama lama disana.

Aktifitas yang Dapat Dijalankan di Batutumonga

Medannya yang berliku nan mendaki, menjadi sebuah tantangan tersendiri sebelum menuju destinasi liburan. Lokasinya yang memang di antara perbukitan, mewajibkan para pengunjungnya untuk berjuang khususnya dulu sebelum merasakan estetika pemandangannya. Pun selama perjalanan, pengunjungnya akan ditawarkan dengan panorama menawan yang terbentang luas.

Sebelum mengunjungi lokasi utama, cobalah untuk singgah sementara di Lokamata. Cuma berjarak sekitar 2 km saja, disini pengujung dapat menyaksikan kehidupan tradisional dari masyarakat pedesaan Toraja. Tak cuma budaya masyarakatnya, pengunjung malah dapat memandang sebagian kubur batu raksasa yang berlokasi di sebagian spot. Seharusnya tampak mengerikan, tapi keunikannya memang cukup menarik untuk dikulik.

Lokasinya yan berada di tepi jalan raya, beragam batu berukuran raksasa hal yang demikian dijadikan lubang khusus menaruh jenazah kerabatnya. Selama menyelusurinya, tak jarang bulu kuduk merinding berakhir mengenal bahwa lubang hal yang demikian diterapkan untuk menaruh jenazah. Melainkan siapa sangka, keunikan hal yang demikian cakap menjadikan nuansa panorama berbeda. Justru dari keunikannya, kian membikin para pelancong mau memandang dari dekat.

Selagi masih berada di wilayah Gunung Sesean, silahkan mengunjungi Bori. Disana pengunjung dapat menemukan destinasi liburan unik, yang disebut Rante atau lebih diketahui sebagai sebutan daerah upacara pemakaman. Mungkin dikala pertama kali mendengarnya, banyak yang kemudian merinding dibuatnya. Sesungguhnya di Rante terdapat batu menhir atau awam disebut megalit, dengan jumlah sekitar 102.

Lebih tepatnya jumlah hal yang demikian terdiri dari 24 menhir berukuran besar, 54 menhir berukuran relatif kecil, dan sisanya yaitu menhir berukuran sedang. Terdiri dari beragam ukuran, membuatnya kian menarik untuk dikulik lebih dalam. Tak sembarang batu, eksistensi batu hal yang demikian diterapkan sebagai wujud penghormatan terhadap pemuka masyarakat yang sudah wafat.

Cuma orang tertentu yang akan dibuatkan menhir, membuatnya spesial ketimbang makan milik orang lain. Barulah dikala mereka memenuhi tingkat Rampasan Sapurandanan, akan berikan batu menhir di makamnya. Bagaimana caranya sampai hingga pada level hal yang demikian ? Kerabatnya wajib memberikan sesaji berupa kerbau minimal 24 ekor, ketika upacara penguburan jasad orang hal yang demikian.

Sudah dipraktekan semenjak sebagian ratusan tahun lalu, sampai sekarang budaya hal yang demikian masih dilaksanakan cocok adat yang berlaku. Sekiranya diperhatikan dari cacatan sejarahnya, tahun 1657 Bori pertama kali menjadi lokasi upacara pemakaman yang cukup besar. Ada sekitar 100 ekor kerbau yang dikorbankan, beserta dua simbuang batu yang kemudian didirikan pada upacara pemakaman Ne Ramba. Pun di tahun 1807, terdapat 200 ekor yang kemudian dikorbankan.

Dapat menjadi anjuran terbaik, pengunjungnya akan dijadikan nyaman dengan terjaganya tingkat kebersihan makanan beseerta daerah makannya. Kecuali kebersihan, harga yang ditawarkan cukup ramah dikantong. Pun pengunjungnya tak perlu kuatir isi kantong akan habis, dengan harga per kamarnya yang cuma dibandrol sekitar Rp. 100 ribuan saja untuk satu malamnya. Meskipun terkesan simpel, kamarnya tampak bersih untuk mengistirahatkan tubuh.

Melainkan ada pula penginapan lainnya yang dapat dipilih, salah satunya ialah homestay Betania. Formatnya yang seperti rumah Tongkonan, terbukti juga menawarkan pemandangan indah untuk memandang kota Rantepao dari kejauhan. bila mencari daerah terbaik merasakan jangka alam Toraja, silahkan mengunjungi Tinimbayo Coffe Shop. Pemandangan sawah serta deretan rumah Tongkongan, dapat menjadi panorama luar awam menawan.

Transportasi Menuju Daerah Destinasi Liburan

Tersedia dua alternatif transportasi, pengunjung yang hendak berkunjung dapat memilih cocok dengan keperluannya. Seandainya mau berbaur dengan masyarakat sekitar, tak ada salahnya mencoba menumpang minibus maupun bemo. Anda dapat menjumpainya di Pasar Bolu, bila beratensi menerapkan transportasi hal yang demikian. Seandainya Anda mau hingga lantas di lokasi liburan, silahkan menyewa kendaraan beroda empat sebagai alternatif terbaik.

Jalanan perjalan yang terbilang cukup susah, lantaran diberi pengaruh oleh keadaan kontur trek khas pegunungan. banyaknya tanjakan serta berliku, tidak jarang membikin penumpangnya merasa pusing sampai mabuk darat. Oleh maka, tiap-tiap pengunjung diharuskan membawa obat anti mabuk sebagai payung sebelum hujan. Pengorbanan selama 1.5 jam hal yang demikian tak akan pernah disesali, dengan estetika pemandangannya yang serasa sesuai diperjuangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/wisatasulawesi/public_html/wp-includes/functions.php on line 5279