Mengintip Pulau Cangke Keindahan Pulau Cinta di Sulawesi Selatan

Mengintip Pulau Cangke Keindahan Pulau Cinta di Sulawesi Selatan – Berkunjung ke Kota Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, senantiasa diidentikkan dengan wisata kuliner. Tetapi, mengerti kah Kamu jika di Sulawesi Selatan ada Pulau Cinta yang ceritanya apalagi melebihi kedahsyatan cerita cinta Romeo dan Juliet. Namanya Pulau Cangke. Posisinya berada di Kabupaten Pangkajene Kepulauan ataupun diketahui pula dengan nama Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.

Pulau Cangke ialah salah satu pulau di gugusan Kepulauan Spermonde. Luas Pulau Cangke memanglah kecil, cuma dekat 10 km persegi saja. Pulau ini ialah salah satu tempat untuk para penyu untuk bertelur. Sepanjang 2 bulan per tahun, para penyu akan tiba ke pulau ini untuk bertelur. Keindahannya memanglah luar biasa menawan. Daratannya sangat teduh, sebab ditumbuhi dengan banyak pepohonan nan hijau.

Air lautnya juga masih bening. Dikala air laut lagi surut, apalagi Kamu telah dapat melihat bermacam terumbu karang dan ikan yang menawan dari atas. Sangat sesuai untuk melaksanakan aktivitas diving, snorkeling ataupun memancing. Jika beruntung, kamu dapat melihat penyu bertelur di pasir putih Pulau Cangke. Pulau Cangke pula menawarkan keindahan sunrise dan sunset sebab keduanya dapat Kamu saksikan dari kedua sisi pulau ini.

Pulau ini rimbun oleh pepohonan yang buatnya semacam suatu hutan kecil di tengah lautan. Di siang hari perairan dekat pulau surut sehingga cuma dengan berjalan- jalan juga Kamu dapat menikmati keunikan bermacam berbagai biota laut yang terdapat di Pulau Cangke. Pulau Cangke cuma ditempati oleh Daeng Abu dan Istrinya, Maidah. Tidak hanya keindahan, pulau ini pula menaruh suatu cerita kehidupan tentang cerita mereka berdua. Mereka sudah hidup bersama sepanjang 40 tahun lebih.

Bagi cerita, Daeng Abu mengasingkan diri ke Pulau Cangke sebab penyakit kusta yang di deritanya. Dahulu penyakit kusta dikira selaku suatu kutukan. Daeng Abu berasal dari Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, dikala itu dia berusia dekat 20 tahunan. Mereka meninggalkan kampung dan terdampar di Pulau Cangke. Pulau yang kesimpulannya jadi rumah mereka. Dikala orang- orang tidak menerima keberadaannya, Maidah si istri senantiasa setia menemaninya sampai dikala ini.

Pulau Cangke juga awal mulanya cumalah suatu pulau yang tandus dan tidak berpenghuni. Daeng Abu dan istrinyalah yang setelah itu berinisiatif untuk menanami pulau ini dengan cemara laut dan sebagian tumbuhan yang lain. Saat ini, Pulau Cangke telah nampak semacam hutan di tengah laut. Tidak hanya menikmati keindahan Pulau Cangke, Kamu pula dapat belajar banyak tentang makna cinta yang sebetulnya. Tentang kesetiaan, pengorbanan, dan kasih sayang. Bukan cuma itu, pelajaran yang lain dalah tidak butuh jadi orang kaya untuk dapat memiliki pulau individu, Dg Abu dan Maidah telah meyakinkannya.

Cerita Dg Abu dan Maidah jadi sangat populer, paling utama untuk orang- orang yang berkunjung di Pulau Cangke. Pendamping suami istri ini merawat dan membenarkan Pulau Cangke senantiasa hijau. Selaku wujud terima kasih, saat sebelum beranjak meninggalkan pulau, pengunjung

umumnya meninggalkan beras ataupun bahan santapan untuk Dg abu dan Maidah. Meninggalkan Pulau Cangke dengan cerita sejoli suami istri itu bawa kesan tertentu dikala ke pulau ini. Pasir putih, pohon- pohon yang rindang, alam dasar laut yang indah dan cerita mereka melingkapi perjalan yang akan terus menempel di benak.

Di pulau ini belum ada sarana listrik. Begitu pula dengan warung makan maupun penginapan. Cuma saja, untuk sinyal handphone di pulau ini masih lumayan bagus. Apabila ingin menginap, Kamu dapat mendirikan tenda di kawasan pulau ini. Jangan kurang ingat pula untuk bawa banyak bekal santapan dan minuman dari rumah. Untuk mengarah ke lokasi Pulau Cangke, Kamu dapat lewat kota Makassar. Dari Makassar, Kamu dapat langsung mengarah ke Pelabuhan Paotere. Dari pelabuhan ini, Kamu dapat menyewa perahu tradisional Jolloro ataupun Katinting. Ekspedisi ke Pulau Cangke ditempuh kurang lebih 3 jam, dengan keadaan laut yang berombak. Sepanjang ekspedisi, mata kamu akan dimanjakan dengan lautan biru yang terhampar luas. Sesekali nampak pulau- pulau kecil dari kejauhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/wisatasulawesi/public_html/wp-includes/functions.php on line 5279