16 Suku di Pulau Sulawesi dan Komplit dengan Keunikannya

Dengan keberagam suku di tanah air Indonesia, terdapat pula bermacam-macam suku di Pulau Sulawesi yang patut kau kenal pula. Kita tahu sendiri bahwa Indonesia yaitu negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau menempuh sekitar 17.000.

Luas Wilayah dan Lokasi Pulau Sulawesi

Dari 17.000 pulau hal yang demikian, 7.000 diantaranya yaitu pulau yang dihuni oleh manusia. Pulau Sulawesi yaitu satu dari 7.000 pulau itu yang berlokasi di Indonesia komponen timur.

Pulau Sulawesi sendiri menempati posisi keempat sebagai pulau terbesar yang ada di Indonesia dengan luas sampai sekitar 174.600 kilometer persegi. Pulau ini diapit oleh dua pulau besar lainnya, yaitu Kepulauan Maluku dan Pulau Kalimantan.

Provinsi Pulau Sulawesi

Secara administratif, Pulau Sulawesi dibagi menjadi enam provinsi, adalah Sulawesi Barat dengan ibukota Mamuju, Sulawesi Tengah dengan ibukota Palu, Sulawesi Selatan dengan ibukota Makassar, Gorontalo dengan ibukota Gorontalo, Sulawesi Utara dengan ibukota Manado, dan Sulawesi Tenggara dengan ibukota Kendari.

Seperti sebagian pulau berpenghuni di Indonesia yang lain, Pulau Sulawesi juga mempunyai kekayaan adat istiadat yang luar awam. Keragaman adat istiadat hal yang demikian tak lain dan tak bukan yaitu hasil karya wisatasulawesi.com dari bermacam-macam suku di Pulau Sulawesi. Salah satu suku di Pulau Sulawesi yang paling dominan ialah Suku Bugis. Karenanya tidak heran, sekiranya Kau berkunjung ke Sulawesi akan amat gampang menemukan orang dari Bugis.

Baca Juga : Daftar Kolam Renang Terbaik Di Makassar

Melainkan, kecuali Suku Bugis masih ada banyak suku-suku lain yang mendiami Pulau Sulawesi. Tak cuma mendiami, suku-suku hal yang demikian juga terus melestarikan adat istiadat khas dan adat istiadat yang mereka miliki. Tulisan ini akan menyampaikan pembahasan seputar bermacam-macam suku di pulau Sulawesi.

Bermacam Suku di Pulau Sulawesi

1. Suku Bugis
Suku di Pulau Sulawesi yang pertama ialah Suku Bugis menjadi salah satu suku yang mempunyai populasi paling banyak di Pulau Sulawesi. Kecuali itu, masyarakat dari Suku Bugis juga sudah banyak menyebar di semua kawasan Sulawesi Selatan, Tenggara, sampai Sulawesi Tengah.

Suku Bugis sendiri dapat dikatakan sebagai suku yang termasuk ke dalam kategori suku Deutro Melayu atau Melayu Muda dan mengerjakan berpindah pada sekitar 3000 SM sampai 1200 SM.

Masyarakat dari Suku Bugis awam mengaplikasikan bahasa Bugis sebagai alat komunikasi sehari-hari. Sebagai bahasa dari suku yang besar, bahasa Bugis juga sudah mempunyai sebagian aksen, mulai dari aksen Pinrang yang mirip dengan aksen Sidrap.

Tak cuma itu, Suku Bugis juga familiar dengan kekayaan adat istiadat yang amat unik. Masyarakat Bugis mempunyai adat istiadat merantau atau meninggalkan kampung halaman yang kuat yang secara turun temurun diturunkan semenjak ke-17.

Dikenal ini yang dianggap mewujudkan Suku Bugis menjadi suku dengan populasi yang besar sebab keberanian dan keterbukaan dengan suatu hal yang baru.

2. Suku Mandar
Suku di Pulau Sulawesi yang kedua ialah Suku Mandar. Hampir sama seperti Suku Bugis, Suku Mandar juga mempunyai jumlah penduduk yang besar dan tersebar di bermacam-macam kawasan, seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

Selain hampir sekitar 90 persen masyarakat dari Suku Mandar memeluk agama Islam, sementara sisanya yaitu penganut agama Kristen.

Sebagai suku dengan mayoritas penduduk beragama Islam, ada sebagian adat istiadat dari Suku Mandar yang menyampaikan nuansa agama Islam yang kuat, semisal seperti Sayyang Pattudu. Sayyang Pattudu sendiri bisa dipahami sebagai ungkapan rasa syukur untuk acara khataman Al Qur;an.

Kecuali itu, suku Mandar juga mempunyai bermacam-macam acara tradisional, semisal seperti Mappande Sasi. Acara ini digelar dengan tujuan untuk menolak petaka selama melaut. Kemudian, ada juga Passandeq yang diselenggarakan sebagai adat istiadat berlayar dengan sebuah perahu yang diberikan nama Sandeq.

3. Suku Toraja
Suku di Pulau Sulawesi yang ketiga ialah Suku Toraja. Suku Toraja sendiri ialah suku yang tinggal di kawasan pegunungan komponen utara dari Provinsi Sulawesi Selatan. Masyarakat dari Suku Toraja banyak tersebar di sebagian tempat, mulai dari Kabupaten Tana Toraja, Mamasa, dan Toraja Utara.

Sedangkan besar masyarakat dari Suku Toraja yaitu pemeluk agama Kristen Protestan, sementara agama dengan jumlah pemeluk tertinggi kedua dari Suku Toraja ialah Katolik.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat toraja awam mengaplikasikan bahasa dari Suku Toraja dalam, seperti Toraja-Sa’dan, Mamasa, Ta’e, Talondo’, Kalumpang, dan Toala’.

Sebagian, untuk memenuhi keperluan sehari-hari, masyarakat Suku Toraja menggantungkan hidup dengan bertani dan berkebun. Namun komoditi yang dibuat antara lain adalah, sayuran, cengkeh, coklat, vanili, lada, dan kopi. Dikenal itu terkait dengan situasi geografisnya yang berada di tempat pegunungan, jurang, dan perbukitan.

4. Suku Makassar
Suku di Pulau Sulawesi keempat ialah Suku Makassar pada dasarnya yaitu sebutan atau nama Melayu bagi suku yang hidup di tempat pesisir selatan dari Pulau Sulawesi. Suku Makassar sendiri termasuk ke dalam rumpun bahasa Bentong, Selajar, sampai Konjo.

Masyarakat dari Suku Makassar banyak yang tinggal Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros, Kabupaten Takalar, Jeneponto, Selayar, dan Bantaeng.

Dikenal ini dikarenakan Suku Makassar telah diketahui luas dengan keberanian dan jiwa penakluknya. Melainkan, Suku Makassar konsisten menjunjung tinggi skor demokrasi yang ada di dalam sebuah metode pemerintahan.

5. Suku Buton
Suku di Pulau Sulawesi kelima ialah Suku Buton yaitu nama bagi masyarakat yang tinggal dan hidup di kawasan Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Buton. Masyarakat dari Buton telah mempunyai adat istiadat yang kental untuk menjadi seorang pelaut.

Karenanya tidak heran, sekiranya banyak yang menyebut suku ini sebagai suku pelaut. Sama seperti suku Bugis dan Mandar, suku Buton juga sudah menjelajah dan merantau sebagai pelaut ke bermacam-macam penjuru Nusantara.

Sedangkan besar masyarakat Buton yaitu pemeluk agama Islam. Sementara, bahasa yang diaplikasikan oleh masyarakat Buton ialah bahasa dari suku Buton sendiri, adalah bahasa Wolio. Bahasa Wolio menjadi bahasa legal di era pemerintahan kesultanan Buton.

6. Suku Minahasa
Suku di Pulau Sulawesi yang keenam ialah Sedangkan besar masyarakat dari Suku Minahasa tinggal di kawasan Sulawesi Utara. Suku Minahasa dapat dikatakan sebagai suku terbesar yang ada di Provinsi Sulawesi Utara.

Suku Minahasa sendiri dalam sehari-hari mengaplikasikan bermacam-macam bahasa, mulai dari bahasa Manado, Tombulu, Tonsawang, Tonsea, dan bahasa Tontemboan.

Sedangkan besar masyarakat Minahasa yaitu pemeluk agama Kristen Protestan dengan jumlah sekitar 80 persen dari populasi. Sementara, 20 persen dari masyarakat Minahasa yaitu pemeluk Islam, Hindu, sampai Buddha.

Kecuali itu, suku Minahasa juga memiliki bermacam-macam warisan adat istiadat yang khas, adalah seperti Tari Maengket, Tari Kabasaran, dan sebuah alat musik yang terbuat dari kayu diketahui dengan sebutan Kolintang.

7. Suku Talaud
Suku di Pulau Sulawesi yang ketujuh ialah Suku Talaud yaitu suku yang tinggal di Provinsi Sulawesi Utara, tepatnya di kepulauan Sangir dan pulau-pulau kecil lainnya yang berada di Kabupaten Talaud.

Kabupaten Talaud ini ialah kabupaten terluar Indonesia dengan kawasan yang berbatasan seketika dengan kawasan Filipina. Berdasarkan heran, ada sebagian penduduk dari suku Talaud yang tinggal di Filipina.

Istilah Talaud sendiri pada dasarnya ialah Taloda yang mempunyai makna sebagai orang laut. Dikenal ini dapat diperhatikan dari kawasan daerah tinggal dan mata pencaharian Suku Talaud sebagai seorang nelayan ikan. Sementara, warga suku Talaud yang berada di pedesaan mempunyai pekerjaan sebagai petani umbi-umbian.

Suku Talaud sendiri mempunyai bahasa dengan enam aksen. Namun aksen dari suku Talaud adalah Essang, Karakelang, Sali-Sabu, Nanusa, Miangas, dan Kabaruan.

Bahasa dari suku Talaud sendiri mempunyai sebagian tahapan seperti bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Bahasa Talaud memiliki tahapan halus, menengah, dan tentu saja kasar. Melainkan, ada banyak masyarakat dari suku Talaud juga mengaplikasikan bahasa Melayu Manado.

8. Suku Balaesang
Suku di Pulau Sulawesi yang kedelapan ialah Suku Balaesang ialah suku yang tinggal di Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Donggala, Kecamatan Balaesang. Suku Balaesang sendiri masih termasuk ke dalam sub dari suku Tomini.

Masyarakat Balaesang Timur diketahui sebagai suku yang memiliki kearifan lokal berupa menyatu dengan alam. Bukti hal yang demikian dapat diperhatikan dari kelestarian alam yang ada di Danau Rano.

Masyarakat dari suku Balaesang tak membiarkan perahu mesin diaplikasikan di Danau Rano, hal ini dikhawatirkan akan mengakibatkan air danau menjadi tercemar.

9. Suku Tolaki
Suku di Pulau Sulawesi yang kesembilan ialah Suku Tolaki dapat disebut sebagai suku terbesar yang ada di wilayah Sulawesi Tenggara. Suku Tolaki sendiri yaitu suku autentik dari Kota Kendari dan Kabupaten Kolaka.

Di Konawe sebelah utara, ada banyak sekali jejak peradaban yang dimiliki oleh Suku Tolaki ini. Dikenal ini juga sudah dijelaskan dengan adanya peninggalan arkeologi di sebagian goa atau kumapo.

Bahasa yang diaplikasikan oleh suku Tolaki sehari-hari ialah Bahasa Tolaki. Bahasa Tolaki sendiri mempunyai sebagian aksen yang khas, semisal seperti wiwirano, asera, konawe, mekongga, dan laiwui.

Bahasa Tolaki juga yaitu bahasa yang mengaplikasikan dua tahapan bahasa, yang pertama untuk orang yang dihormati dan yang kedua untuk orang yang seusia atau sepermainan.

Dikenal data sensus penduduk yang dilaksanakan pada tahun 2015 silam, sempurna penduduk dari Suku Tolaki menempuh sekitar 900.000 jiwa. Mayoritas penduduk dari suku Tolaki yaitu pemeluk agama Islam.

10. Suku Pattae
Suku di Pulau Sulawesi yang kesepuluh ialah suku yang berasal dari Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, adalah Suku Pattae. Sedangkan besar masyarakat dari suku Pattae menetap di Kecamatan Matakali sampai ke perbatasan Kabupaten Pinrang. Dalam kesehariannya, masyarakat Pattae berkomunikasi dengan aksen khas Pattae.

Kecuali itu, masyarakat dari suku Pattae banyak yang bermata pencaharian sebagai petani. Namun komoditi yang ditanam, adalah seperti padi dan jagung. Melainkan, sebagian juga ada yang menanam sayur-sayuran sampai kopi.

Selain bahwa mayoritas masyarakat dari Suku Pattae yaitu pemeluk agama Islam. Dikenal ini yang mewujudkan banyak adat istiadat dan adat istiadat yang mengandung nuansa Islam yang amat kental.

Namun bernuansa islami yang masih diturunkan secara turun temurun oleh Suku Pattae sampai dikala ini ialah Pa’bongian atau Ma’bongi. Hampir sama seperti adat istiadat yang ada di Jawa dan Bugis, Kedua adat istiadat hal yang demikian diselenggarakan dalam rangka memperingati kematian sanak dan keluarga atau kerabat yang sudah meninggal dunia.

Upacara Pa’bongian atau Ma’bongi ini dilaksanakan mulai dari hari ke-3. Kemudian, akan dilanjutkan sampai hari ke-100. Namun rutinitas patut yang ada dalam upacara seperti ini diantaranya adalah, membaca Al Qur’an, membaca yasin, serta bermacam-macam do’a tahlil.

Kecuali itu, dalam adat istiadat ini, menjadi sebuah keharusan untuk menyampaikan sajian khas adalah ma’bage. Ma’bage yaitu sebuah makanan yang terbuat dari beras ketan dan dicampur dengan kelapa dan gula merah.

11. Suku Duri
Suku di Pulau Sulawesi yang kesebelas ialah Suku Duri yaitu salah satu suku bangsa yang hidup dan tinggal di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan.

Permukiman dari suku Duri mempunyai kawasan yang berbatasan seketika dengan Tana Toraja. Sedangkan besar masyarakat dari suku Duri mempunyai mata pencaharian sebagai sebagai petani. Namun komoditi andalannya adalah padi, jagung, cabai, ubi, dan bawang merah.

Sementara itu, masyarakat dari Suku Duri yang tak bertani memilih untuk memelihara binatang ternak. Dari tradisi memelihara binatang ternak ini, suku Duri mempunyai olahan ternak yang familiar adalah keju atau kerap juga disebut dengan nama Dangke.

Dangke sendiri yaitu makanan yang berasal dari susu sapi dan kerbau untuk kemudian diolah secara tradisional. Dangke familiar berkat keunikannya yang mempunyai tambahan sari buah daun pepaya.

Sedangkan besar masyarakat dari suku Duri sendiri yaitu pemeluk agama Islam. Melainkan, sisanya yaitu penduduk yang menganut kepercayaan tradisional dari Suku Toraja, adalah Alu’ Tojolo. Sebelum agama Islam masuk, Alu’ Tojolo yaitu kepercayaan yang lebih dahulu dianut oleh masyarakat suku Duri.

12. Suku Moronene
Suku di Pulau Sulawesi yang kedua belas ialah Suku Moronene yaitu salah satu suku besar yang tinggal di wilayah Sulawesi Tenggara. Moronene sendiri sesungguhnya yaitu suku autentik pertama yang mendiami Sulawesi Tenggara. Mayoritas masyarakat dari Suku Moronene beragama Islam.

Masyarakat Moronene dulu kerap mengerjakan metode ladang bermigrasi. saja, mereka kini telah mulai hidup menetap dan tak mengerjakan metode hal yang demikian.

Tak cuma itu, dikala ini Suku Moronene juga diketahui sebagai suku yang mempunyai kepandaian dalam memelihara ekosistem mereka. Berdasarkan heran sekiranya di pemukiman mereka ada jonga, binatang sejenis rusa, sampai kakatua jambul kuning.

13. Suku Pamona
Suku di Pulau Sulawesi yang ketiga belas ialah Suku Pamona yaitu suku yang penduduknya tinggal di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, lebih ideal beberapa besar tinggal dan hidup di Kabupaten Poso.

Sementara, beberapa lagi menetap di Kabupaten Tojo Una-Una, tempat Morowali Utara. Sedangkan besar masyarakat dari Suku Pamona yaitu penganut agama Kristen Protestan, dan sisanya yaitu pemeluk agama Islam dan agama rakyat.

Masyarakat dari Suku Pamona mengaplikasikan bahasa Ta’a atau bahasa Poso sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahasa ini dapat dikatakan sebagai bahasa yang unik. Dikenal ini dikarenakan tiap-tiap huruf terakhir dari kata bahasa Ta’a akan diakhiri dengan huruf vokal atau suku kata terbuka.

Kecuali itu, suku Pamona sendiri juga mempunyai tarian populer, adalah Tarian Dero. Tarian Dero umumnya dilaksanakan pada pesta-pesta rakyat dan ditarikan oleh orang yang masih berusia muda.

Tarian ini akan membikin para penari menyusun sebuah lingkaran sambil bergandengan tangan. Kemudian, mereka akan berbalas pantun sambil diiringi musik yang ceria.

Suku Pamona juga mempunyai upacara katiana, upacara ini yaitu upacara untuk memperingati kehamilan yang telah menginjak umur 6 atau 7 bulan. Tujuan dari katiana sendiri adalah untuk minta keselamatan sang ibu, rumah tangga, serta bayi dalam kandungan.

14. Suku Kaili
Suku di Pulau Sulawesi yang keempat belas ialah Suku Kaili ialah salah satu suku yang tinggal di kawasan sekitar kota Palu, di Sulawesi Tengah. Suku Kaili sendiri mempunyai jumlah penduduk menempuh sekitar 300 ribu jiwa. Sedangkan besar masyarakat dari suku Kaili yaitu muslim.

15. Suku Mongondow
Suku di Pulau Sulawesi yang kelima belas ialah Suku Mongondow yaitu suku yang hidup di provinsi Sulawesi Utara, ideal di perbatasan dengan Gorontalo atau kawasan Kotamobagu dan kabupaten sekitarnya. Sama seperti suku Kaili, suku ini beberapa besar memeluk agama Islam.

16. Suku Gorontalo
Suku di Pulau Sulawesi yang keenam ialah Suku Gorontalo atau kerap disebut juga Hulontalo yaitu suku yang hidup di provinsi Gorontalo, di komponen utara Sulawesi. Masyarakat dari suku Gorontalo sendiri mempunyai jumlah populasi sampai sekitar 1,2 juta jiwa. Sebagai masyarakat yang mayoritas beragama Islam, suku Gorontalo bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/wisatasulawesi/public_html/wp-includes/functions.php on line 5279